
Tadinya saya sama sekali tak berpikir untuk memulai memiliki sebuah rumah. Namun sebuah imbauan 'keras' seseorang yang dekat dengan saya, akhirnya pikiran saya mulai terbuka untuk memiliki sebuah tempat tinggal.
Walaupun, kemudian saya tersadar, bahwa mencari sebuah rumah bukanlah pekerjaan mudah. Ada sangat banyak pertimbangan ketimbang memilih barang biasa.
Hal itu pula yang membuat saya rela hampir setiap malam tidur jam tiga pagi. Browsing internet, mem-bookmark hasil temuan, membuka-buka peta bahkan memotret link iklan yang sekiranya penting. Semua itu untuk mendapatkan gambaran plus minus yang lengkap tentang profil sebuah rumah.
Di sisi lain, budget adalah hal pertama yang harus dipertimbangkan, mengingat adanya keterbatasan daya beli (daya utang maksudnya, hehe). Lainnya adalah lokasi atau daerah mana yang diharapkan. Untuk yang satu itu, saya hanya berpikir untuk merambah dari selatan ke daerah barat.
Mulai Pondok Indah (ini sih udah pasti dilewat) sampai ke Bintaro hingga terus ke daerah Serpong. Selain lebih dekat ke kantor di Jakarta Barat, juga saya merasa lebih nyaman berada di wilayah ini. Sementara para pengembang perumahan terhitung sangat ekspansif sehingga tersedia banyak pilihan.
Meski mengincar wilayah Bintaro, namun saya menyempatkan diri survei ke Pondok Cabe dan Pamulang. Begitu pula kawasan Cileduk di mana beberapa teman saya mengambil rumah di daerah ini. Sementara kawasan Daan Mogot, Cengkareng hingga Tangerang Kota cukup ditilik lewat peta.

Pertimbangan rupanya belum selesai. Mengenai lingkungan, saya dihadapkan pada pilihan apakah akan tinggal di kompleks atau bukan, perumahan baru atau perumahan lama. Pertimbangan lannya menyangkut banjir, kenyamanan, keamanan dan sebagainya.
Dan yang terpenting yakni rumah itu sendiri. Seperti luas tanah, bangunan serta kondisi bangunan. Saya tak segan-segan untuk bertanya lokasi mana saja yang bagus atau jelek dan kenapa. Di antara jawaban yang saya dapat, umumnya karena daerah tersebut merupakan wilayah resapan air yang dijadikan kompleks sehingga sanitasinya kurang baik.
Hanya dalam dua minggu saya sendiri sudah menyatakan berminat serius dengan sebuah rumah di sebuah kompleks di antara Bintaro-Serpong. Namun berkali-kali ke sana (terakhir malam pukul 21.30) akhirnya saya memutuskan untuk tidak mewujudkan transaksi. Penyebabnya? Banyak rumah dibeli sebagai investasi lalu ditinggal begitu saja hingga rusak. Belum, kabarnya di daerah situ pernah terjadi banjir satu kali. Padahal, rumah yang saya incar sudah membuat saya jatuh hati.
Tapi apa boleh buat. Keputusan harus dibuat berdasarkan pertimbangan matang yang menguras logika dan perasaan, sungguh di luar perkiraan saya sebelumnya.
"Enggak usah susah-susah. Kalo loe udah dapet lokasi dan liat itu rumah trus hati loe cocok, ambil. Tapi kalo masih ada perasaan ragu barang sedikit aja, mending tinggalin. Rumah itu kayak jodohlah," saran Kelik yang berpengalaman membeli properti.

"Gue itu cari rumah satu tahun, baru dapet. Tadinya udah mo bayarin rumah yang lebih kecil dan lebih mahal. Syukur di akhir-akhir gw batalin dan dapet yang lebih gede, lebih bagus dan lebih murah," ujar Yosi, rekan kantor yang fotografer.
"Gw beli rumah itu ga pake mikir karna gw liat 'Pendi' udah survei tiga bulan dan dia pilih daerah situ. Gw yakin Pendi itu udah ngebandingin ke mana-mana, soalnya dia kan orangnya teliti banget. Enggak salah, akhirnya gw bisa punya rumah sendiri yang lokasinya bagus," aku Salim, fotografer lain.
Ya, semoga mendapatkan pilihan yang terbaik. Amiin...