Geliat Jakarta

Geliat Jakarta
Suatu minggu pagi di Jl.MH Thamrin

Kamis, 04 Maret 2010

Sesuatu yang salah

Ini hanya dugaan saja selain mengandalkan dugaan konvensional; udah nasib! Yakni, pasti ada yang salah ketika kita merasa arah hidup ini tidak seperti yang kita inginkan. Ibarat mengemudi, harus berulang kali menggerakkan setir agar kembali ke lajur yang benar, supaya lurus.

Nah, mengendalikan kemudi ini kadang sering keliatan gampang. Padahal baru ketauan susah kalau sudah salah arah. Tapi hidup ini enggak melulu berisi hal yang benar, baik dan sesuai keinginan kita. Karena dari situlah kita dapat belajar.

Seperti enam bulan terakhir ini.

Senin, 17 Agustus 2009

Sebuah keinginan: Rumah

Tadinya saya sama sekali tak berpikir untuk memulai memiliki sebuah rumah. Namun sebuah imbauan 'keras' seseorang yang dekat dengan saya, akhirnya pikiran saya mulai terbuka untuk memiliki sebuah tempat tinggal.

Walaupun, kemudian saya tersadar, bahwa mencari sebuah rumah bukanlah pekerjaan mudah. Ada sangat banyak pertimbangan ketimbang memilih barang biasa.

Hal itu pula yang membuat saya rela hampir setiap malam tidur jam tiga pagi. Browsing internet, mem-bookmark hasil temuan, membuka-buka peta bahkan memotret link iklan yang sekiranya penting. Semua itu untuk mendapatkan gambaran plus minus yang lengkap tentang profil sebuah rumah.

Di sisi lain, budget adalah hal pertama yang harus dipertimbangkan, mengingat adanya keterbatasan daya beli (daya utang maksudnya, hehe). Lainnya adalah lokasi atau daerah mana yang diharapkan. Untuk yang satu itu, saya hanya berpikir untuk merambah dari selatan ke daerah barat.

Mulai Pondok Indah (ini sih udah pasti dilewat) sampai ke Bintaro hingga terus ke daerah Serpong. Selain lebih dekat ke kantor di Jakarta Barat, juga saya merasa lebih nyaman berada di wilayah ini. Sementara para pengembang perumahan terhitung sangat ekspansif sehingga tersedia banyak pilihan.

Meski mengincar wilayah Bintaro, namun saya menyempatkan diri survei ke Pondok Cabe dan Pamulang. Begitu pula kawasan Cileduk di mana beberapa teman saya mengambil rumah di daerah ini. Sementara kawasan Daan Mogot, Cengkareng hingga Tangerang Kota cukup ditilik lewat peta.
Pertimbangan rupanya belum selesai. Mengenai lingkungan, saya dihadapkan pada pilihan apakah akan tinggal di kompleks atau bukan, perumahan baru atau perumahan lama. Pertimbangan lannya menyangkut banjir, kenyamanan, keamanan dan sebagainya.

Dan yang terpenting yakni rumah itu sendiri. Seperti luas tanah, bangunan serta kondisi bangunan. Saya tak segan-segan untuk bertanya lokasi mana saja yang bagus atau jelek dan kenapa. Di antara jawaban yang saya dapat, umumnya karena daerah tersebut merupakan wilayah resapan air yang dijadikan kompleks sehingga sanitasinya kurang baik.

Hanya dalam dua minggu saya sendiri sudah menyatakan berminat serius dengan sebuah rumah di sebuah kompleks di antara Bintaro-Serpong. Namun berkali-kali ke sana (terakhir malam pukul 21.30) akhirnya saya memutuskan untuk tidak mewujudkan transaksi. Penyebabnya? Banyak rumah dibeli sebagai investasi lalu ditinggal begitu saja hingga rusak. Belum, kabarnya di daerah situ pernah terjadi banjir satu kali. Padahal, rumah yang saya incar sudah membuat saya jatuh hati.

Tapi apa boleh buat. Keputusan harus dibuat berdasarkan pertimbangan matang yang menguras logika dan perasaan, sungguh di luar perkiraan saya sebelumnya.

"Enggak usah susah-susah. Kalo loe udah dapet lokasi dan liat itu rumah trus hati loe cocok, ambil. Tapi kalo masih ada perasaan ragu barang sedikit aja, mending tinggalin. Rumah itu kayak jodohlah," saran Kelik yang berpengalaman membeli properti.

"Gue itu cari rumah satu tahun, baru dapet. Tadinya udah mo bayarin rumah yang lebih kecil dan lebih mahal. Syukur di akhir-akhir gw batalin dan dapet yang lebih gede, lebih bagus dan lebih murah," ujar Yosi, rekan kantor yang fotografer.

"Gw beli rumah itu ga pake mikir karna gw liat 'Pendi' udah survei tiga bulan dan dia pilih daerah situ. Gw yakin Pendi itu udah ngebandingin ke mana-mana, soalnya dia kan orangnya teliti banget. Enggak salah, akhirnya gw bisa punya rumah sendiri yang lokasinya bagus," aku Salim, fotografer lain.

Ya, semoga mendapatkan pilihan yang terbaik. Amiin...

Jumat, 31 Juli 2009

Yang tersisa dari materi kuliah: Intuisi

Beruntung jika seseorang memiliki intuisi yang terasah. Intuisi, semacam kemampuan batiniah untuk menangkap, mencerna dan mengambil keputusan atas sesuatu.

Intuisi bukanlah insting, bukan feeling dan bukan turun sebagai wangsit. Melainkan ada di dalam dari dalam diri manusia dan bisa senantiasa diasah. Saking pentingnya intuisi ini, khususnya dalam dunia bisnis, konon sebuah perguruan tinggi di Malaysia membuka kelas khusus untuk mempelajari tentang intuisi ini.

Orang yang dapat mengendarai intuisi dalam hidupnya akan menjadi lebih senang. Karena mudah dalam mengambil sebuah keputusan tanpa dihantui keraguan. Misal dengan mudah memilih bisnis apa yang berpotensi untung besar, mengubah strategi dan menentukan apa yang akan dilakukannya.

Namun intuisi tidak dapat berdiri sendiri jika ingin benar-benar sukses. Intuisi harus ditemani oleh yang namanya metode ilmiah. Ini guna menghindari risiko yang besar. Sebab, intuisi cenderung memberi hasil yang besar, namun terkadang salah. Sebaliknya, metode ilmiah mendorong tindakan kita untuk selalu benar namun cenderung tidak memberi hasil seperti yang kita inginkan.

Karena hasil besar terletak di risiko yang besar pula, intuisi diperlukan untuk memandu keputusan kita agar berani menghadapi risiko dan menikmati hasil yang besar.
Semoga, intuisi yang ada dalam diri kita selalu terasah.

Rabu, 24 Juni 2009

Starcruise 4: Lama-lama terbiasa (selesai)

Jadwal operasional kapal ini memang ketat. Berangkat setiap hari Minggu dan kembali lagi Kamis, dari dan ke Singapura. Usai itu kapal kembali melaut hanya dengan sedikit penumpang. Kali ini bukan untuk berlayar, melainkan sekadar 'parkir' di tengah laut. Di dalamnya, para penumpang khusus dapat menikmati judi di tengah samudra.

Setahun, kapal ini terus aktif selama 10 bulan. Bisa dibayangkan waktu untuk santai para kru dan pelayan nyaris tidak ada. Untuk kru kapal bagian tertentu, mereka wajib berolah raga jogging mengelilingi kapal untuk menjaga kesehatan.

Untuk waiter/tress nyaris tak ada waktu untuk itu. Karena mereka tidak bekerja sistem shift, melainkan menyambung terus dari pagi. Bangun pukul 05.00, mandi dan mengantri makanan yang lamanya bisa setengah jam. Lalu masing-masing menyiapkan diri menuju tempat kerja karena restoran buka pukul delapan.

Untuk makan siang, sudah harus disiapkan sejak jam 10.00 setelah sesi breakfast ditutup. Lalu usai makan siang, kru masih melayani untuk kepentingan afternoon tea. Dan makan malam disiapkan dua jam sebelumnya, pukul 16.00. Sementara usai makan malam jam 22.00 restoran masih dibuka untuk para penumpang hingga pukul 24.00. Waiter/tress baru bisa tidur pukul 02.00 dinihari. Seorang waitress mengaku awalnya sulit untuk mengikuti jadwal seperti itu, namun lama-kelamaan jadi terbiasa.

Starcruise 3: Benar-benar ringkas

Di kapal ini terdapat beberapa restoran dengan nuansa berbeda. Asia specialty, international buffet, outdoor BBQ dan lainnya yang kalau masuk harus berpakaian formal.

Restoran-restoran tersebut hampir tidak pernah tutup. Karena makan pagi mulai jam 8 hingga 10, dilanjut makan siang 12-14 dan malam 18.30-20.30. Di beberapa restoran, di sela-sela jam makan digelar tea break dan berbagai acara. Bisa dipastikan, kru berbeda bekerja di tempat yang sama.

Soal kesamaan ini juga berlaku di tugas-tugas lainnya. Bisa dibayangkan, seseorang harus punya multi talenta untuk bekerja di sini. Sebab wanita direktur kapal yang tampil smart dalam sesi perkenalan, juga tampil sebagai entertainer yang bermain dalam kabaret di malam-malam selanjutnya. Ia menari, berakting dan juga menyanyi dengan make up dan kostum yang membuatnya sulit dikenali.

Bagaimana dengan pemain-pemain lainnya? Sudah pasti mereka semua tak lain adalah para awak kapal. Cara ini benar-benar ringkas, karena tak perlu mengangkut orang lebih banyak untuk menghibur para penumpang (bersambung) .

Selasa, 23 Juni 2009

Starcruise 2: Cerita Dari Kapten

"Ada penumpang bertanya, dengan apa kapal ini bergerak? Apakah dengan mesin diesel atau menggunakan tenaga listrik. Saya jawab keduanya salah. Karena sebenarnya saya hanya membiarkan kapal ini bergerak tertiup angin," seloroh sang Kapten kapal asal Finlandia di sesi perkenalan.

Ia juga bilang, saat lari pagi, penumpang menempuh jarak sekitar 450 meter untuk sekali mengelilingi badan kapal di jogging track di lantai 7. "Tadinya panjang kapal tidak seperti ini. Kami sengaja membawanya ke Jerman lalu membelahnya menjadi dua dan menambah kabin di tengahnya sehingga jadi panjang seperti sekarang". Ah, lagi-lagi si Kapten bule berkelakar.

Di kesempatan yang sama ia menjelaskan bahwa saat itu kapal tengah mengangkut 950 orang lebih. Untuk perjalanan selama empat hari ada sekitar 2.000 kilogram buah diangkut. "Itu belum termasuk sesuatu yang akan kita buang di lautan seperti sayur, ikan dan daging," ucap sang Kapten diikuti tawa hadirin.

Jadi terbayang, bagaimana seluruh staf kapal ini sibuk selama pelayaran untuk memuaskan para penumpang (bersambung).

Starcruise 1: Bangsa Yang Ramah

Bangsa Indonesia memang sudah ditakdirkan menjadi bangsa yang ramah dan suka beramah tamah. Ini memang hal biasa dilakukan, termasuk ketika saya dan rekan perjalanan saya banyak berbincang dengan waiter/tress yang melayani kami dalam perjalanan bersama Star Aquarius, sebuah kapal pesiar berbasis di Singapura, Oktober tahun lalu. Sebuah doorprize dari General Motors membawa saya dan rekan menikmati perjalanan tersebut.

Dari seorang pelayan saya juga tahu jika pelayan dari Filipina dan negara-negara Asia lainnya berusaha belajar bahasa Indonesia agar dapat berbincang-bincang dengan penumpang kapal asal Indonesa. Menurutnya, mereka heran kenapa setiap orang Indonesia jika bertemu dengan sesama bangsa saling bertegur sapa. Berbeda dengan orang-orang dari negara lain yang bersikap cuek.

Saya pun merasa tertarik untuk tahu lebih jauh seputar kehidupan di atas sebuah kapal pesiar (bersambung).